Sumber Daya Manusia yang ahli dalam bidang pendidikan bagi anak dengan autisme di Indonesia dirasa masih kurang. Padahal, jumlah anak autis cukup banyak, sementara mereka memerlukan model pendidikan yang berbeda dengan anak lain.

Melihat kebutuhan anak dengan autisme di D.I. Yogyakarta menggerakkan nurani Hartati untuk melihat lebih jauh potensi mereka yang belum tergali. Wanita kelahiran Kota Bantul ini percaya bahwa pendidikan seni merupakan merupakan media yang tepat, bukan saja untuk melatih kemampuan motorik, namun juga melatih keterampilan jangka panjang sang anak.

Jumlah anak usia sekolah dengan autisme di Provinsi DI Yogyakarta diperkirakan lebih dari 150. Menurut wanita yang juga merupakan Kepala Sekolah Khusus Autis Bina Anggita, Bantul ini, pendidikan bagi anak autis memerlukan penanganan yang kompleks. Untuk mendukung perkembangannya diperlukan berbagai fasilitas yang harganya cukup mahal, mulai dari terapi sensorik integrasi, terapi wicara, hingga ruang kesehatan khusus dan fasilitas pendukung untuk mengembangkan bakat anak.

Selain itu, pendekatan secara interpersonal, dirasa Hartati menjadi kunci utama.

“Fokus utama saya adalah untuk menginspirasi dan mendidik para anak dengan autisme ini untuk menyadari potensi diri mereka. Program ini menyentuh seluruh anak autis di Bantul, bukan hanya para siswa Bina Anggita. Saya percaya bahwa dibalik keunikan mereka, ada potensi besar yang harus digali. Saya hadir untuk menjadi fasilitator mereka dalam mencari dan mengembangkan potensi diri mereka,” ujar wanita berusia 52 tahun ini.

Hartati mengajarkan para penyandang autisme bermain alat musik. “Alat musik, secara tidak langsung melatih motorik, keseimbangan, serta daya fokus mereka. Selain itu, kemampuan memainkan alat musik juga menjadi sebuah keterampilan yang dapat menjadi modal untuk bekerja di masa mendatang,” tutur Hartati.

Dukungan dari masyarakat sekitar juga dirasa perlu untuk menciptakan lingkungan kondusif bagi para anak dengan autisme. Bekerjasama dengan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (BTKP) dan Bursa Kerja Khusus (BKK) di tingkat RT-Kecamatan-Kelurahan, Hartati juga mengajarkan ilmu budidaya jamur berbasis polybag, serta strategi pemasarannya.

Oleh karena komitmen dan kontribusi nyata ini, Hartati dianugerahi penghargaan Local Hero kategori “Pertamina Cerdas” oleh Pertamina, pada tahun 2014 lalu. Pertamina menilai, bahwa apa yang telah dilakukan Hartati sangat menginspirasi khalayak luas, untuk mulai peduli terhadap penyandang autisme.

Untuk mendukung program ini, pada tahun 2014, Pertamina memberikan bantuan berupa pembangunan fasilitas belajar mengajar di Bantul. Dukungan Pertamina dinilai sangat bermanfaat bagi Hartati. “Komitmen jangka panjang menjadi penting, agar pembekalan yang diberikan dapat lebih mendalam. Perbaikan serta peningkatan sarana dan prasarana sekolah juga kami perlukan, dan bantuan dari Pertamina sangat bermanfaat bagi kami,” tambah Hartati yang memiliki hobi menyanyi dan menyinden.

Atas komitmen tinggi Hartati di dunia pendidikan ini, Sekolah Khusus Autis Bina Anggita menjadi satu-satunya Sekolah Luar Biasa di Yogyakarta, yang mendapatkan titel “Sekolah Percontohan” berdasarkan Surat Keputusan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Yogyakarta.

“Dalam mengedukasi para penyandang autisme, sabar dan tidak putus asa merupakan hal yang terpenting,” tutup Hartati. – Pers Rilis

 

Respon Pembaca

komentar