Oleh Iwan Simatupang (1928-1970)


Pengantar Redaksi: Iwan Simatupang adalah sastrawan dengan karya novel dan terutama esai-esainya yang kuat, meskipun ia  juga menulis puisi dan cerita pendek.  Salah satu cerita pendeknya yang terbaik dan terkuat dari yang tidak banyak itu, menurut kami, adalah Tanggapan Merah-Jambu tentang Revolusi. Pengarang berhasil menyeimbangkan antara bahan perkisahan dengan sisipan-sisipan informasi, opini, pendapat, dan gaya bahasa yang cerdas, tanpa harus menjadi “keminter”.


 

 

Lima belas tahun yang lalu, terataknya didatangi seorang laki-laki kasar, memperkosanya lalu pergi ke gunung. Anak yang lahir sepuluh bulan kemudian adalah gadis cilik yang setiap pagi buta kudengar bersama ibunya bernyany-nyanyi kecil memunguti buah-buah asam jawa berjatuhan dari pohon-pohonya sepanjang jalanan kota kecilku. Dengan menguaknya kabut pagi oleh derai-derai pertama angin pegunungan, mereka tak tampak lagi, dan sudah dalam perjalanan pulang ke teratak mereka di kaki gunung selatan kotaku.  Asam jawa itu mereka kumpulkan. Sekali seminggu datang pedagang kota ke teratak mereka, mengambilnya, membayarnya. Sekian tahun sudah mereka hidup begitu. Tahun demi tahun, yang membuat si anak tumbuh jadi seorang gadis cilik dengan wajah manis. Tetapi, juga tahun demi tahun, yang membuat ibunya kian pendiam. Kian segan melihat manusia. Kian banyak merenung, melihat ke gunung selatan kota kecilku.

 

Pada suatu pagi buta, aku seperti sediakakala dibangunkan oleh nyanyian yang sudah tak asing lagi bagiku itu. Nyanyian sederhana sekali, terdiri dari beberapa nada yang sering kembali lagi, ditingkahi bungi-bunyi menyerupai suara-suara malam di jurang-jurang pegunungan. Mineur lagu ini khas. Seolah cekikan tangan, yang pada saat terakhir  longgar kembali, dan cepat merentang bagi elusan-elusan mesra. Pada saat kita ingin menikmati elusan-selusan itu tiba-tiba kita merasa leher kita tercekik lagi. Demikianlah nyanyian itu memberikan suatu kenikmatan tak lengkap, suatu keindahan yang pada saat terakhir tak menjadi keindahan, tanpa sendiri menjadi jelek.

 

Mereka sendiri, ketika sekali kutanya, tak dapat menerangkan nyanyian apa yang mereka nyanyikan itu. Si ibu hanya dapat mengingat bahwa pada suatu hari, menjelang anaknya lahir ada turun seorang utas dari pegunungan lewat terataknya.

 

Dia menyanyikan sebuah lagu yang menarik sekali. Sedemikian tertariknya ia kepada lagu itu, sehingga perlu ia perlu menegur orang utas tersebut dan mempersilakannya singgah. Kemudian ditanyanya, lagu apa itu. Orang utas itu menerangkan, ia juga hanya pernah sekali ketika sedang menebang sebuah pohon besar mendengarnya sayu dinyanyikan seorang, yang menurut cerita kawan-kawannya sesama orang utas, adalah seorang pemuda yang baru kira-kira setahun bereda di hutan-hutan itu. Menurut kawan-kawannya, orang itu adalah seorang pemuda kota, yang entah mengapa meninggalkan kota dan memutuskan menetap selanjutnya di hutan-hutan pegunungan. Belum ada orang utas itu telah berjumpa dari dekat sekali dengan dia. Orang itu agaknya menghindarkan bertemu sesama manusia. Apabila ia mengindar, namun kepergok bertemu juga, dia tersipu-sipu malu mengatakan perlu segera berlalu lagi…

 

Demikianlah orang utas menganggapnya sebagai orang aneh, tetapi tak berbahaya. Ia diketahui ada dekat di sekitar dari nyanyian-nyanyian yang kian lama terkenal juga di kalangan orang-orang utas itu. Bahkan mereka lalu menganggap nyanyian-nyanyian itu sebagai nyanyian-nyanyian mereka sendiri, tentang pepohonan dan belukar-belukar di puncak gunung itu bersama jurang-jurangnya.

 

 

Ketika perempuan itu menanya rupa pemuda aneh itu, orang utas itu meneguk minumannya lalu berdiri. Ia mengangkat pikulan kayu bakarnya. Sebelum berangkat. Ia sayu menatap ke gunung. Kemudian ia mengalihkan pandangannya tajam-tajam kepada wanita itu, terutama pada perutnya yang bunting. Ia menarik napas panjang, lalu berangkat. Baru beberapa langkah dari teratak itu, dia menggumamkan lagu itu kembali.

Sebagian nada lagu itu disimak perempuan itu baik-baik dan setelah bayinya lahir, nada-nada itulah yang dilagukannya di setiap kesempatan: di kala menidurkannya, di kala memomongnya. Anak itu ternyata sangat peka terhadap nada-nada tersebut. Tangis anak itu segera hilang oleh lagu itu, dan matanya yang bundar hitam terpacak menatap gunung dalam selubung kelabu birunya. Tak heran, lagu itu lama-lama ikut jadi bagian darah dagingnya. Dia pun kemudian ikut menyanyikannya hampir di setiap kesempatan. Lagu itulah juga yang dinyanyikannya dalam gumam bersama ibunya kala memunguti asam jawa di kota kecilku. Bila pagi masih buta. Lagu yang sudah sekian tahun menjadi semacam pengenal kehadiran mereka di kotaku. Lagu, pembuat aku bangun, yang juga sudah ikut jadi bagian darah dagingku.

 

Pada pagi kusebut tadi, aku juga dibangunkan lagu itu. Tetapi, terdengar olehku betapa lebih segar dan gembira lagu itu dinyanyikan, yang membuatnya jadi semacam lagu mineur dalam mars, lagu mars dalam mineur. Juga lain dari biasa, kali ini aku dengar anak beranak itu bercakap gembira, diselingi tawa kelakar. Tertarik oleh hal yang jarang kudengar ini, aku membuka jendela bilik tidurku.

“Oh!” seru si ibu, kaget dan malu. “Bising kami agaknya telah membuat Saudara bangun.”

Aku menggelengkan kepalaku dan berbohong, aku sudah lama bangun. Si gadis kecil yang juga sudah melihat aku, tegak malu-malu di samping keranjang yang hampir penuh asam jawa.

“Ibu bersama anak ibu, pagi ini gembira sekali. Ada kabar baik?” aku terlanjur bertanya.

 

Di sebalik bukit-bukit sebelah timur tampak merah dan kuning mengembangkan garis-garis panjang yang diserakkan ke kelam langit subuh. Aku melihat garis-garis itu menjerat aku dengan nurani yang keburu ikut bangun. Mengapa pula aku mesti bertanya begitu? Takkah tanyaku itu a priori memutuskan mereka dengan setiap kemungkinan untuk gembira?

Mengapa mesti a priori? Disebabkan derita mereka? Derita seorang wanita muda yang oleh sesuatu pengaruh alam tertentu atas seorang laki-laki menjadikannya buas, dan membuat wanita muda itu menerima keibuan sebagai kondisi yng tak terelakkannya? Sedang keibuan bukan pengertian yang dengan sendirinya datang bersama kebatinan… Merah yang semakin merah dari balik bukit-bukit, memancarkan panas tumpangan rasa maluku.

“Minggu depan, ibu genap lima belas tahun kawin,” beri tahu si gadis itu. “Ibu ingin merayakannya?”

Aku sedikit terkejut. Kawin? Kawin dengan siapa? Untuk kesekian kalinya sepagi itu, aku dihunjam pertanyaan-pertanyaan. Dari mana dia persis tahu dia minggu depan genap lima belas tahun kawin? Pula, siapa di daerah seperti ini yang merayakan hari kawinnya? Siapakah perempuan ini sebenarnya? Adakah dia dahulunya seorang penghuni kota juga, dari golongan atasnya? Atau, bahkan seorang putri bangsawan? Tetapi, mengapa ia pada saat yang naas itu ada di suatu teratak terpencil, di kaki sebuah gunung, selatan sebuah kota kecil?

Mataku berhenti pada si gadis cilik. Bukankah usianya empat beals tahun lebih? Dari dalam remang bayang-bayang pagi, aku mencoba mencari mata ibunya.

 

Sebuah aba-aba dari tempat yang paling dalam dari lubuk hatiku menyuruh aku mengerti. Mengerti sejelasnya!

 

“Hari ini saudagar kota datang ambil asam,” sambung si gadis. “dia juga akan membawa sepasang pakaian baru buat ibu dan saya. Juga sebuah…”

“Mini!” seru ibunya tiba-tiba, melarang.

Tetapi si gadis tak sanggup lagi menghentikan beritanya. Tanpa gubris ibunya, ia menyambung.

“Juga sebuah bendera! Bendera yang kami beli tahun lalu sudah tua. Merahnya hampir hilang. Musim hujan yang lalu melunturkannya membuat bendera putih itu seluruhnya berwarna merah jambu. Setiap tahun, pada ulang tahun ibu, ibu memyuruh beli sebuah bendera baru!”

 

Tampak betapa bangga ia dengan beritanya itu.

“Oleh sebab anak saya yang lancang ini sudah memberitahukannya, baiklah bersama ini saya undang Saudara datang minggu depan ke teratak kami, turut merayakannya. Tetapi, Saudara jangan harapkan pesta besar. Sekedarnya, untuk kita bertiga saja.”

“Hari apa minggu depan?” tanyaku, setelah menganggukkan setuju.

“hari pertamanya saja, Minggu. Jadi, Saudara prei kantor.”

Aku mengangguk lagi, walau tak jelas menangkap jalan pikirannya menyebut Minggu sebagai hari pertama dari pekan. Adakah dia pembangkang Injil, dengan konsepsinya tersendiri tentang Genesis?

“Saudara kan tahu letak teratak kami?” tanyanya.

Aku mengangguk ke sekian kalinya. Aku tahu. Tak jauh mengikuti jalan yang melintas depan rumahku, ke kaki gunung selatan kota. Aku pernah sekali sampai ke sana, ketika iseng berjalan-jalan. Letaknya agak terpencil dari kampung orang-orang utas tak jauh dari situ.

Orang-orang utas di kampung itu sudah berhenti saling bertanya mengenai perempuan aneh yang memencil bersama anaknya itu. Tetapi disebabkan tingkah lakunya yang selalu ramah, menyediakan santapan sekedarnya bagi siapa saja yang datang berteduh atau beristirahat sebentar di terataknya itu, tak seorang pun dari mereka itu sampai hati mengganggunya. Bahkan mereka menganggap suatu kewajiban melindungi perempuan dan anaknya itu. Juga pasukan-pasukan gerombolan yang bersarang di hutan-hutan gunung tahu hal itu. Oleh sebab itulah tak seorang juga dari mereka lewat teratak itu, ke atau pulang dari operasi.

Orang-orang utas menegaskan, bila perempuan bersama anaknya itu diganggu, maka mereka akan menghentikan segala rupa bantuan, berupa pengiriman makanan, pakaian dan pekerjaan-pekerjaan sebagai kurir ke kota. Dan agaknya anggota-anggota gerompolan itu ada juga menerima perintah dari pihak atasannya, jangan berbuat demikian. Perintah yang sangat mereka takuti, sangat mereka takuti agaknya…

 

Hari minggu berikutnya, aku bangun matahari condong di timur. Telingaku mencari-cari beberapa nada yang pagi itu tak disuguhkan padanya. Aku tersenyum, melihat lepas ke puncak gunung. Lewat selubung kelabu birunya, aku menyampaikan salam kepada dua makhluk yang berdiam di kakinya, yang hari ini merasa lebih bahagia dari hari-hari lainnya. Aku ingin bergegas berpakaian. Di kamar mandi aku menggumamkan nada-nada, yang pagi ini sia-sia dinantikan telingaku.

Tetapi, ketika kau hendak masuk kembali ke kamarku, aku melihat di jauhan sebuah kepulan asap ramping naik ke udara kaki gunung. Kepulan asap itu makin tebal. Jantungku berdentang cepat. Asap apa itu? Sambil berkemas pakaian, aku menanyai diriku. Asap apa? Musim hujan betul baru saja lewat, tetapi belum masanya kini bagi peladang di lereng-lerang gunung membakar alang-alang. Tanah masih basar gembur.

Aku keluar halamanku. Kulihat beberapa orang di jalan berkelompok-kelompok melihat kepada kepulan asap itu. Mereka juga tak mengerti. Langkah-langkah mengikuti dentang jantungku. Tanpa kusadari aku sudah dalam lari-lari kecil.

Jantungku tiba-tiba memukulkan kelompok nada yang sudah tak asing lagi bagiku itu. Darahku tersirap: mineur-nya tetap, tetapi iramanya kini lambat sekali… Tidak!  Aku tak ingin mengasosiasikan pikiranku dengan requiem mana pun!

Dari jauh kulihat orang-orang utas berkumpul di tengah halaman kampung mereka. Mataku membelalak kepada teratak yang letaknya agak memencil dari situ, dan sudah hanya tinggal bekasnya saja! Api kecil dipermainkan angin menjilat-jilat bekasnya…

Sebuah tangan dingin menyentuh aku. Aku menoleh. Aku melihat ke dalam wajah yang kukenal. Di hadapanku berdiri orang utas langgananku, yang menyediakan kayu bakar selama ini ke rumahku. Ia menuntun aku ke bayang sebuah pondok.

“Apa yang terjadi, Pak?” tanyaku.

“”Ah! Kami sendiri tak mengerti. Subuh tadi ada turun sepasukan gerombolan kami kemari. Katanya mereka diperintahi komandannya membawa perempuan bersama anaknya yang tinggal di teratak itu, ikut naik ke gunung.”

“Untuk apaa?” tanyaku. Pura-pura tak tahu guna perempuan bagi gerombolan.

‘Kami tak diberitahu. Mereka hanya berkata: Apa pun yang akan terjadi, tetapi perempuan bersama anaknya itu harus mereka bawa ikut serta ke gunung.”

“Kalian izinkan begitu saja?” tanyaku.

“Tidak. Kami tanyakan, apakah komandan mereka ada ikut memperkirakan kami yang tinggal di kampung ini, di dalam perintahnya itu. Apakah dia masih ingat syarat-syarat yang kami berikan dahulu kepadanya?”
“Jawab mereka?”

“Kepala pasukan berkata, ‘Ya, komandan kami sudah memperkirakan semuanya. Juga, bahwa Bapak-bapak akan menghentikan segala bantuan, bahkan mungkin akan memulai perlawanan permusuhan kepada kami. Tetapi, putusannya tak dapat disangkal lagi. Perintah adalah perintah; demikian katanya’.”

“Lalu?”

“Kami, sesama orang utas berunding. Kebanyakan dari kami ingin terlebih dahulu menemui komandan itu ke gunung, menanyakan maksud sebenarnya dari perintah itu. Tetapi kepala pasukan itu mengatakan, itu tak ada guna. Katanya, Pak Komandan tak kenal tawar-menawar mengenai perintah yang sekali sudah dikeluarkannya. Lalu kepada pasukan itu menambahkan, Bapak-bapak jangan khawatir, perempuan ini bersama anaknya tidak akan diapa-apakan.”

“Kalian percaya begitu saja?” tanyaku bengis.

“Tentu saya percaya. Tetapi, kepala pasukan itu kemudian berkata lagi, ‘kalau Pak Komandan hanya sekedar butuh perempuan saja, itu tak sukar baginya. Dia cukup berikan perintah singkat, dan keberanian pasukan-pasukan kami menjamin perempuan cantik mana saja, di mana saja, sebagai kawannya seketiduran. Tetapi perempuan bersama anaknya ini adalah lain…”

“Lain? Aku mengingatkan kembali perempuan bersama anakknya itu. Si Ibu memang belum tua benar, separuh baya pun belum. Tetapi dia taklah cantik sedemikian rupa, hingga seorang komandan gerombolan di gunung mengirimkan pasukan eksepedisi khusus menjemputnya. Demikian jua mengenai anaknya.”

“Ya, lain. Tetapi ia tak mau terangkan, mengapa lain.”

“Kemudian?”

“Kami berunding tetapi kami tetap tak  bisa ambil putusan, Perintah itu aneh bagi pendengaran kami. Kami tak dapat mengetahui latar belakangannya. Oleh sebab itulah kami kemudian pergi bersama-sama pasukan itu ke teratak perempuan itu. Mendengar isi perintah itu. ..’

“Apa katanya?”

“Dia tersenyum. Kemudian dengan tenang sekali dia berkata kepada kepala pasukan, bahwa dia takkan turut.”

“Apa kata kepala pasukan?”

“Dia membujuknya supaya turut saja. ‘tolonglah saya memudahkan tugas saya!’ sembahnya. Tetapi perempuan itu menggeleng kepalanya. Katanya, ‘saya tetap tak mau turut, dan lakukanlah kewajiban saudara sebaik-baiknya’.”

“Lalu?”

“Kepala pasukan itu yang memperhatikan kami, orang-orang utas yang berkumpul di situ. Tiba-tiba kejadian berlaku cepat sekali. Kami tahu-tahu mendengar letusan-letusan senapan. Kami melihat darah… dan secepat itu pula kami lihat mereka lari ke gunung, mengangkat tubuh perempuan dan anaknya di atas bahu mereka. Kami sangat terkejut. Sedemikian terkejutnya sehingga tak mampu berbuat apa-apa.”

Dia tunduk. Aku ada dalam kecamuk rasa dan pikiran, yang aku sendiri tidak dapat melukiskannya. Hampir tak setahuku aku telah melangkahkan kakiku ke teratak yang masih berkepul asap itu. Di situ kudapati gambaran biasa dari suatu kebakaran yang hampir selesai. Lesu aku mengirim pandanganku ke benda-benda yang ada di tengah sisa-sisa hangus itu.

Tiba-tiba mataku terpikat oleh sesuatu warna, yang tajam memisahkan dirinya dari yang serba hitam itu. Hatiku berdenyut. Aku seolah sudah tahu saja, merah dari apa itu. Aku lari menujunya, dan di tanganku kupegang sebuah bendera merah putih yang sudah tua, yang sudah luntur warnanya menyerupa merah jambu.

Untuk sejurus, benakku penuh dengan warna-warna di tanganku itu, dengan segala arti yang mereka bawa serta.

Angin pegunungan yang sejuk, tetapi juga kering menandakan musim penghujan telah lama lalu, dan tibanya musim kemarau, membuat aku jaga dari rengungan-renunganku. Orang utasku rupanya sudah pergi. Dari jauh kulihat sosok tubuh di tengah kelompok orang utas lainnya berkumpul di tengah halaman perkampungan mereka itu. Kulihat merkea memegang senjata-senjata tajam: tombak, golok, dan sebagainya. Aba-aba yang kudengar berikutnya penuh nafsu angkara murka, dengan dengung yang minta pembalasan. Udara yang ada di situ penuh getar minta darah.

Naluriku menyuruh aku lekas pergi dari situ. Aku tak bisa mempersaksikan awal dari suatu luka cerita. Kain yang masih di tangaku tadi kumasukkan dalam saku celanaku. Aku sendiri tak tahu akan kupengapakan ia. Tetapi, terang, bahwa setiap butir darah dalam tubuhku berontak terhadap niatku untuk membuangnya saja, atau membiarkannya di tengah abu dan arang-arang hitam itu.

Aku menempuh jalan memintas. Telingaku penuh dengan ngiang dari aba-aba itu, dari tiap aba-aba, tiba-tiba kudapati langkah-langkahku sudah dalam gerak mars. Aku tak mengerti tetapi derap ini membuat aku seolah siuman kembali dari suatu tidur yang puas.

Aku tak heran lagi ketika saat berikutnya kudengar aku telah bersiul. Siul dari nada-nada yang sudah sekian tahun membuat aku bangun daru tidurku. Nada-nada yang sudah pergi menyelinap ke tengah hijau dari puncak-puncak pegunungan.

Langit sangat cerlang. Angin pegunungan masih saja membelai. Petang itu aku pulang ke rumah dengan suatu tanggapan merah jambu tentang revolusi.

 

Siasat Baru, V+XIV/661,
10 Pebruari 1960

 

Respon Pembaca

komentar