APA yang terjadi? “Wah, penumpang banyak banget,” kata seorang supir Taksi Blue Bird yang saya ajak ngobrol, sehari setelah hari gratis itu.

Orang Jakarta ternyata sama saja, suka yang gratisan. Hari itu, armada taksi biru yang beroperasi pada hari itu memang digratiskan.

Tapi tidak semua jalan. “Cuma yang ada Fleety ini,” kata si supir menunjuk alat di sisi kanannya. Inilah alat tambahan yang dari alat itu supir bisa memonitor orderan taksi dari operator.

Si supir pada hari gratis itu mendahulukan penumpang yang sudah ia kenal, dan sering menggunakan jasanya. Atau pelanggan yang membeli vocer. Banyak yang kecewa karena tidak terlayani. Ini sisi buruknya.

Tapi pada hari itu memang banyak penumpang yang aji mumpung. “Kita bisa tahulah, Pak, mana yang biasa pakai taksi, mana yang naik taksi hari itu karena gratis.

Misalnya, ada anak sekolah yang minta antar ke Ancol. “Saya bukannya nggak mau antara, tapi nanti mereka pulangnya gimana?” kata si supir tadi.

Dari sisi pemasaran ini adalah upaya Blue Bird memulihkan brand dan trust pelanggan yang kecewa setelah aksi mogok taksi di ibukota memprotes angkutan online. Memang tak hanya Blue Bird yang mogok. Tapi, harus diakui menggratiskan seluruh taksi adalah keputusan yang hebat. Dengan begitu, Blue Bird berhasil mencuri simpati pelanggan.

Mereka seakan mau bilang: lihat, hanya kami yang peduli sama pelanggan!

Dan ini adalah biaya yang mahal. Semua supir taksi yang beroperasi tetap harus dibayar komisi hariannya. “Targetnya argo pada hari itu mencapai 1 juta. Seperti hari biasalah,” kata supir taksi Blue Bird tadi.

Manfaat lain bagi Blue Bird adalah menyeleksi supir yang tidak jujur. Lho kok bisa? “Ada tiga supir yang ada di pangkalan saya yang langsung dipecat karena jalan aja muter-muter nggak bawa penumpang. Pokoknya target argonya tercapai. Ya, ketahuan!

“Kok ketahuan, Pak?”

“Kan ada alat ini!” katanya sekali lagi menunjuk ke Fleety.

 

(Hasan A)

 

Respon Pembaca

komentar