Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! Jangan meninggalkan sejarahmu yang sudah, hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan sejarahmu yang sudah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan, dan lantas engkau menjadi bingung, dan perjuanganmu paling-paling hanya akan berupa amuk, amuk belaka! Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap.

– Presiden Sukarno, dalam pidato 17 Agustus 1966, “Jasmerah”.

 

Negeri kita kaya, kaya, kaya-raya, Saudara-saudara. Berjiwa besarlah, berimagination. Gali ! Bekerja! Gali! Bekerja! Kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia.

– Pidato Bung Karno di semarang 29 Juli 1956.

Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian.

– Pidato Pembelaan Bung Karno di Muka Hakim Kolonial

 

Seperti saya sendiri, apalah hati Saudara tidak digoncang-goncang oleh keinginan untuk merdeka? Saya pergi tidur dengan pikiran untuk merdeka. Saya bangun dengan pikiran untuk merdeka. Dan saya akan mati dengan cita-cita untuk merdeka didalam dadaku.

 Dalam buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia oleh Cindy Adam.

Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan saya meninggalkan penjara dengan pikiran yang sama.

 Dalam buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia oleh Cindy Adam.

Respon Pembaca

komentar