“Saya nulisnya sambil nongkrong di Sarinah, tulis tangan. Kalau sudah banyak baru saya ketik ke warnet. Kalau mentok saya ke QB Book, ketemu kamulah,” kata Eka kepada Richard. QB Book adalah toko buku sastra dengan koleksi yang sangat ambisius milik Richard yang akhirnya tutup. Sebagian dari buku-buku dari situ kini memenuhi dinding Reading Room.

“Ya, ya.. waktu itu saya kasih dia banyak buku referensi ke dia,” kata Richard kepada saya, dia menyebut antara lain beberapa judul buku termasuk karya sastrawan Norwegia Knut Hamsun yang dalam beberapa wawancara memang kerap disebut oleh Eka.

Lulus dari Universitas Gajah Mada (UGM), sebagai sarjana filsafat, Eka sempat menjadi jurnalis di Jakarta. Dengan bekal pengalaman aktif di majalah kampus – dan pernah ikut workshop kepenulisan yang diadakan majalah Pantau yang memperkenalkan jurnalisme sastrawi di Indonesia – ia membantu Pantau.

Untuk Pantau, Eka meliput sastrawan Pramoedya Ananta Toer (yang kini selalu disebut sebagai sosok yang kebesarannya ditandingi oleh Eka), penerbit Jusuf Ishak, kartunis Orde Lama paling kritis Augustin Sibarani, komunitas kartunis Kokkang, dan banyak topik lain. Pantau identik dengan disiplin jurnalisme yang ketat, dari situ Eka memetik pengalaman berharga tentang bagaimana interview, cermat mengamati situasi, dalam menggali informasi dan mengorganisasikannya ke dalam sebuah tulisan naratif, yang berkisah, gaya yang menjadi ciri khas Pantau.

Tak sampai dua tahun di Jakarta, Eka kembali ke Yogyakarta dengan naskah “Cantik…” yang setebal bantal itu.

Dan “Cantik…” pun terbit, tapi Eka dihajar oleh sambutan yang mengecilkan hati. Publik sastra mainstream mengapresiasi dengan buruk. “Waktu itu ya saya sebagai pengarang ya kecewa. Tapi sekarang saya sih bisa bilang begini: kalau dibandingkan dengan karya Pram atau Ahmad Tohari ya ‘Cantik…’ memang perbandingannya jadi gak bunyi. Beda. Pram dan Ahmad Tohari bagus banget, tapi novel saya juga bagus dengan kebagusan yang gak bisa dicocok-cocokkan dengan karya Pram atau Tohari ya…” kata Eka.

“Orang bilang ini realisme magis karena di pembukaan saya menulis tokoh utama yang bangkit dari kubur. Tapi alinea berikutnya saya menulis orang-orang lari, anak-anak gembala ketakutan. Realisme magis tidak begitu, hal-hal magis seperti harus diterima sebagai kewajaran. Saya sih ingin bilang ini novel horor, dan saya memang ingin menulis cerita horor,” kata Eka.

Eka yang sudah memutuskan untuk hidup di jalan sastra tak mau mundur lagi. Tak ada cara lain untuk menjawab buruknya sambutan atas “Cantik…” kecuali terus menulis buku. Ia lalu menerbitkan buku kedua “Lelaki Harimau”.

“Struktur. Bangunan cerita. Bangunan kalimat yang kuat. Itu kekuatan Eka,” kata Richard, yang kerap memberi banyak garis bawah pada pembicaraan kami. Richard menjelaskan apa yang ia maksud. Pada novel keduanya, Eka menulis dengan kalimat-kalimat yang selalu disisipkan anak kalimat, setiap kalimat seakan tak pernah ingin diselesaikan. Ini beda sekali dengan “Cantik…”.

Kehadiran novel keduanya membuktikan konsistensi Eka. Sementara itu ia pun berkeluarga, hidup dalam irama yang wajar dan tertib, mengerjakan apa saja – menulis naskah untuk televisi, mengerjakan desain (pada waktu kuliah dia pernah kursus desain ketika sempat ragu dengan dunia tulis-menulis), dan menulis cerita pendek untuk disiarkan di surat kabar dan majalah – untuk membangun kehidupan pribadi dan keluarganya.

Di tengah semua kesibukan itu Eka mulai merancang apa yang kini terbit sebagai “O”.

“Jadi buku lo yang dulu sempat lo tunjukin desain sampulnya itu gimana nasibnya?” tanya Richard.

Respon Pembaca

komentar

1 2 3 4 5