Kami tidak mau ketinggalan! Seorang di antara tawanan laki-laki ada yang sanggup membuat gitar dengan alat-alat sederhana. Waktu kuceritakan hal itu kepada sersan, dengan gembira ia membolehkan dan kemudian mencarikan alat-alat tajam dan sepotong kayu besar. Kami tahu, bahwa sersan sebetulnya melanggar aturan.

Setelah kerja keras hampir sebulan dengan susah payah, teman itu dengan pisau, gergaji, betel dan palu telah menyelesaikan  sebuah gitar dan sebuah ukulele. Senarnya kawat bermacam-macam. Bunyinya memang kurang bagus, tapi tidak sumbang, tidak mengecewakan. Kami betul-betul bergembira. Setiap siang sehabis kerja dan pada waktu-waktu terluang sebelum gelap, gitar dan ukulele terus berbunyi, terutama mengiringi “Red River Valley”. Sersan tersenyum-senyum mengawasi kami dari tempatnya, kadang-kadang ikut bersuka ria bersama kami.

Pada suatu hari Minggu, sepulangnya dari gereja, sersan membawa oleh-oleh untuk kami. Sesudah dibuka, kami bersorak gembira melihat sebuah harmonika dalam bungkusan itu. Dan hingga makan siang, gitar, ukulele, dan harmonika terus bersahutan. Sersan kagum melihat di antara kami ada yang mahir memainkan harmonika. Ia ikut bergembira, menyanyi, menari, lupa bahwa ia komandan kamp tawanan. Lebih gembira lagi setelah diketahuinya bahwa beberapa di antara kami ada yang bisa menyanyikan lagu Belanda dan Inggris. Koperal pembantunya yang tadinya hanya acuh tak acuh melihat, datang dan ikut bernyanyi. Dengan bangga ia mengatakan bahwa di kampungnya, lagu “Giver Me Five Minutes More” dinyanyikan dalam Bahasa Belanda. Lalu diajarkan kepada kami:

“Kolenman, kolenman
kom je gauw bij me aan
ik verga van de kou
kom nu gaum. (2X)
Want de Bilt voorspelt nog veel meer slecht weer.
Zwarte Piet, breng een mutsje antrasiet.
Kolenman, kolenman….”
dan seterusnya.

Suara dan lagak kopral itu menyebabkan aku berpikir tentang petani-petani Belanda yang kuat dan kasar dengan kuda-kudanya yang sangat besar.

Suasana dalam kamp bertambah riang. Kerap pada malam hari beberapa orang di antara kami dikeluarkan dari kamar tutupan, dikumpulkan dalam kamar sersan untuk menyanyikan lagu-lagu dan memainkan gitar, ukulele, dan harmonika. Kopi susu dan roti disediakan. Aku sambil ikut menyanyi-nyanyi selalu menghadapi papan catur dan sersan.

Pada suatu sore kami mengadakan “pesta” untuk sersan. Hidangan tidak beda dengan ransum biasanya, hanya segalanya agak diatur sedikit. Kami merayakan hari ulang tahun sersan yang kami ketahui dari catatan pada kalender di kamarnya. Sesudah siap, wakil kami memanggil sersan. Ia kaget kemudian mengangguk-angguk menahan airmata yang akhirnya tetes juga waktu kami bersama-sama menyanyikan lagu “Happy Birthday”. Dengan gugup mengusap-usap mata ia menyatakan terima kasihnya dan bawha selama hidupnya ia tak akan melupakan saat itu. Ia berpesan, supaya andaikata kelak, suatu waktu di antara kami ada yang sampai ke negerinya, jangan lupa mampir ke rumahnya. Ia akan gembira menerimanya. Seorang di antara kami menerjemahkan kata-katanya dan kami bersorak-sorai menyambut. Kopral pembantunya tak begitu acuh, tersenyum-senyum iseng sambil menyalakan rokok.

Ransum sore itu jadi lebih enak rasanya. Sersan ikut duduk di antara kami dan turut makan. Dan tepat pukul 5 pesta mesti berakhir. Kami dimasukkan kembali ke dalam kamar tutupan, lalu berbisik membicarakan pesta yang baru lalu dan sersan. Kebaikannya berkesan dalam hati kami, tawanan yang umumnya diperlakukan kejam tanpa perikemanusiaan.

Dalam kamp seperti kamp kami, rata-rata tawanan menjadi gemuk dan jarang sekali yang kena penyakit. Penghidupan sehari-hari memang serba sama. Pagi tepat jam 7 dikeluarkan dari kamp, diabsen, lalu dibagi-bagi untuk dipekerjakan. Beberapa orang menjaga kebersihan kamar-kamar dan kamp. Menjelang jam 12 siang semuanya sudah kembali, menanti ransum. Jam 1, setelah makan dan beristirahat sebentar, dimasukkan lagi ke kamar. Jam 3.30 dikeluarkan untuk mandi, ke kakus dan sebagainya, lalu makan terakhir. Jam 5 sore sudah dalam kamar lagi. Sebelum gelap, kami diperbolehkan menyanyi-nyanyi dan berbicara keras, atau macan-macanan. Jam 7 tidak boleh bersuara lagi. Kamar-kmar tidak diberi lampu, hingga yang tampak hanyalah rokok saja. Melamun yang tak pernah membosankan sebelum tidur di atas ubin dingin beralaskan tikar pandan. Di luar kamar terang-benderang oleh lampu-lampu penyorot.

Akhir-akhir itu sersan hampir setiap malam mengajakku bermain catur. Banyak ceritanya tentang keluarganya, kekasihnya yang bermata kehijauan dan teman-temannya. Nampak rindunya pada segala yang dia tinggalkan. Dalam keadaan begitu tak terlihat sedikitpun sifat ketentaraannya, meskipun pakaiannya loreng dan berpestol. Kalau sudah lewat jam 10 aku dikembalikan ke dalam kamar. Rata-rata sudah nyenyak, satu dua orang masih merokok, melamun.

Suatu malam, waktu aku dikembalikan ke kamar lagi setelah bermain catur dengan sersan, dua teman sekamar perlahan mendekatiku. Dengan berbisik diterangkan kepadaku, bahwa mereka hendak melarikan diri. Katanya keduanya tidak mungkin akan dibebaskan karena terdakwa telah membunuh serdadu Belanda.

Aku kebingungan. Kalau hanya keluar dari kamar memang mungkin, tapi kurasa tidak mungkin bisa menerobos kawat-kawat berduri dan penjaga-penjaga. Tapi mereka tetap hendak melarikan diri. Daripada dibawa lagi ke markas dan ditembak mati lebih baik sekarang berusaha, demikian katanya dengan sungguh-sungguh.

Kamp itu terdiri dari dua gedung panjang berhadapan. Jadi hanya ada dua jalan. Pagar di depan atau yang belakang. Melewati atap tidak mungkin, sedang penjagaan di bagian depan sangat kuat. Melewati ruangan sersan yang selalu terang-benderang dan ruangan penjaga-penjaga sungguh mustahil. Jadi, satu-satunya jalan hanya melewati penjagaan belakang. Penjaga belakang hanya terdiri dari satu orang dan tempatnya dalam menara pos agak tinggi. Mereka memang hendak melalui belakang.

Aku sebetulnya hanya diminta beberapa petuntuk karena aku yang paling kerap keluar pada malam hari. Segala yang kuanggap berguna bagi mereka kujelaskan.

Tekad mereka mengagumkan. Aku merasa malu karena seperti telah tenggelam dalam suasana kamp dan tidak ingat lagi pada perjuangan yang masih harus berkobar di luar kamp. Kesempatanuntuk membantu mereka itu tidak akan kusia-siakan1 Usulnya agar aku mau membukakan pintu sewaktu aku berada diluar, kutolak. Mereka tidak tahu bahwa tiap malam aku di luar itu selalu berhadapan dengan sersan dan kembalijnya diantarkan oleh penjaga.

Larut malam aku mendapatkan akal! Mereka setuju. Rahasia itu kami tutup rapat! Hanya kami bertiga yang boleh tahu.

Pada hari berikutnya aku sudah bisa menyembunyikan kawat agak tebal sepanjang kira-kira semetar dan sebuah jatur. Malam itu kurasa lebih sepi dari biasanya dan lambat. Hanya bunyi sepatu penjaga-penjaga yang terus kedengaran.

Rencana kami sudah pasti. Aku gelisah bermain catur dengan sersan. Sudah lewat jam 11 sersan tidak juga menyuruhku kembali. Kalau sejak mulai main tadi ia kuberi sekali saja kemenangan tentu tidak sampai begitu larut. Baru pada hampir jam 12 ia dengan tersenyum menyuruh seorang penjaga mengembalikan ke kamar. Aku kira ia mengatuk betul-betul.

Palang pintu dibuka dan aku masuk. Sesudah ditutup lagi kami dengan agak gugup mulai berunding. Tengah malam truk piket datang. Bersama dengan derum truk waktu pergi, kawat yang sudah kubengkokkan kumasukkan di celah antara daun pintu dan palang pintu kuangkat dengan kawat itu perlahan-lahan. Tanganku gemetar dan tenggorokan terasa kering. Pintu terbuka! Dengan cepat keduanya keluar. Pintu kututup lagi. Teman-teman sekmar sudah tidur semuanya. Aku gelisah duduk di dekat pintu. Kami berjanji, kalau dalam setengah jam mereka akan tak berhasil menembus pagar belakang, mereka kembali. Dalam hatiku aku terus berdoa agar keduanya selamat dan berhasil. Apa yang mungkin terjadi sesudahnya aku tak perduli.

Setelah kudengar bunyi teng jam setengah satu, aku menarik nafas lega. Mereka tentunya telah selamat dapat menerobos pagar kawat berduri di bawah menara penjagaan dengan catut yang kucuri dari kamar sersan.

Tiba-tiba bergegar tembakan otomatis! Aku kaget tersentak dan terbayang kematian mereka yang mengerikan. Suara orang jatuh dan mengaduh ramailah seketika. Penjaga-penjaga kedengaran berlarian.

Dari celah pintu nampak keduanya tersungkur di tengah-tengah halaman, di bawah lampu sorot yang menyilaukan. Yang seroang tidak bergerak lagi. Hanya dalam sekejap mata seluruh kamp seperti dibangunkan. Bantuan serdadu cepat datangnya. Semua tawanan dikeluarkan dengan penjagaan keras, dibariskan dan diperiksa satu-satu. Kamar-kamar dibersihkan, segala barang-barang dikeluarkan ditumpuk di bawah lampu. Aku kaku dalam barisan melihat kedua temanku yang tertembak. Yang masih hidup segera diangkut ke rumah sakit.

Alangkah kecewaku setelah kemudian kuketahui kejadian yang sebenarnya. Dari beberapa tawanan perempuan kudengar, bahwa pada malam itu kedua temanku yang tertembak itu telah memasuki bagian perempuan hanya untuk memuaskan nafsunya. Berita itu segera menjalar dari mulut ke mulut. Aku jadi ingat! Kedua temanku itu memang bersabahat dengan dua tawanan perempuan yang ditempatkan di kamar paling pojok hanya bersama dua atau tiga tawanan lain. Mereka telah membohongiku. Aku sangat kecewa, dan harus kutanggung sendirian!

Sersan tida banyak bicara. Tak ada tindakannya yang kejam. Hanya, sejak kejadian itu gedung laki-laki dan perempuan dibatasi oleh pagar kawat berduri berlapis dua. Penjagaan ditambah dengan satu pos.

Sersan berubah. Ia jadi pendiam dan mukanya selalu muram. Sejak itu aku tidak ernah lagi diajak main catur. Gitar, ukulele, dan harmonika masih dalam kamar kami, tapi tidak ada lagi yang menyentuh, tidak ada lagi kegembiraan seperti dulu.

Hingga pada pembebasan tahanan waktu penyerahan kedaulatan, sersa selalu tampak bersedih dan makin kurus. Salam perpisahanku tidak dibalasnya.

Braga 71, 1955

Respon Pembaca

komentar

1 2 3