Sersan itu berperawakan sedang dan lagak-lakunya tenang. Jalannya memang teratur seperti kebiasaan seorang serdadu, tapi tidak kasar. Tenang ia melangkahkan kakinya. Mukanya lancip dan selalu dicukur licin. Dengan tersenyum kesepian pernah dikatakannya padaku: “Niets kan een vrouwenhart meer bekoren, dan goed geknipt en glad geschoren!” (Tidak ada yang lebih bisa mempesona hati wanita, selain bercukur bagus dan licin). Bibirnya kemerahan dengan mata membiru jernih. Lain sekali dengan kopral pembantunya yang tinggi besar dengan kulit kemerah-merahan seperti krupuk udang dan serba kasar.

Di dalam kamp itu juga ditempatkan tawanan-tawanan perempuan. Setempat dengan kami, tapi lain gedung. Sesudah bekerja, jika belum jam 1, kami diperbolehkan bergaul dengan mereka. Bersama antri mengambil ransum, makan, dan menjelang jam 1 mencuci pakaian atau bercakap-cakap dengan mereka. Bergurau, menceritakan keadaan masing-masing, tukar-menukar rokok dengan sabun pembagian atau bermain macan-macanan.

Tapi bagaimanapun juga rasa terkurung menyebabkan orang masih juga merasa sedih dan cemas, sebab tidak ada yang tahu bila kami akan dibebaskan. Kerinduan pada kebebasan lebih menggelisahkan, lebih-lebih jika sudah malam. Kesepian begitu menekan dan nafsu meluap-luapm. Akibatnya perbuatan tak senonoh untu melepaskan nafsu. Pokok pembicaraan hanyalan kebebasan dan di antara laki-laki soal perempuan. Kenangan-kenangan dengan perempuan yang sudah-dudah, terutama membicarakan perempuan-perempuan yang setempat dengan ami. Tentu saja yang menarik!

Perempuan di situ sebagian besar terdiri dari orang-orang kampung. Di antaranya ada yang enak saja berbicara tentang kesunyiannya kepada kami, tentang rindunya pada suaminya. Pertama-tama mula ku ikut-ikut bercakap dengan mereka. Beberapa hari kemudian, sedap mengobrol dengan mereka itu! Kurang kuhiraukan dua orang pelajar yang sok pelajar di antara perempuan-perempuan tawanan yang lain.

Sersan komandan kami menurut katanya sendiri sebetulnya masih bersekolah. Ia mahasiswa kedokteran yang dimiliterisir dan dikirimkan ke Indonesia. Para tawanan sayang dan hormat padanya, sebab tahu bahwa segala kebebasan dalam kamp itu berkat kebaikan dan keberaniannya. Ia mengerti dan sedapat mungkin berusaha menghargai perasaan kami. Karena kebijaksanaannyalah maka kai merasa lebih senang dalam kamp itu. Setiap malam radionya sengaja disetel keras-keras agar kami bisa ikut mendengarkan hiburan-hiburan yang disiarkan.

Penjaga-penjaga tak ada yang mencampuri kami. Tidak ada yang berani menggoda perempuan-perempuan. Sersan melarang keras dan tidak takut-takut melaporkan ke markas seperti pernah terjadi waktu seorang serdadu yang berjaga di bagian belakang mengganggu seorang tawanan perempuan. Sejak itu tidak pernah terulang lagi. Penjaga-penjaga hanya berkewajiban menjaga agar jangan sampai terjadi keributan, jangan sampai ada yang melarikan diri, demikian sersan itu.

Banyak juga kenang-kenangan yang menyenangkan. Ada seorang perempuan yang aktif memimpin tawanan-tawanan temannya. Orang-orang yang buta huruf diajarnya membaca dan menulis. Sebelum ditawan ia guru pada sekolah rakyat. Usahanya boleh dipuji. Untuk mengurangi kesedihan hidup dalam kamp diajarkan nyanyian-nyanyian gembira. Yang paling populer lagu “Red River Valley” dengan kata-kata buatannya sendiri. Aku masih ingat kuplet pertamanya:

“Janganlah kamu bermuram durja
mari kita nyanyi bersama,
lag yang merdu serta gembira,
tak guna selalu berduka”

dan seterusnya.

Di mana saja lagu itu dinyanyikan.

Respon Pembaca

komentar

1 2 3