Oleh Trisnojuwono (1925-1996)


Pengantar Redaksi:  Cerita pendek ini boleh dianggap sebagai salah satu karya Trisnojuwono (1925-1996) yang paling terkenal.  Pengarang berlatar belakang militer ini kemudian mengembangkannya menjadi novel dan hingga diangkat ke layar lebar. Cerita pendek ini terbit bersama sejumlah cerita lain dalam buku Lelaki dan Mesiu (Pustaka Jaya, Cetakan Pertama, 1957), buku pertamanya yang langsung memenangkan Hadiah Sastra Nasional dari Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional (BMKN). Selamat membaca, dan jangan lupa beri penilaian Anda atas cerita pendek klasik Indonesia ini.


Dalam pertempuran-pertempuran sesudah tentara Belanda menyerbu Jogja, banyak orang-orang di antaranya pejuang-pejuang ditangkap. Tak sedikit yang ditembak mati begitu saja waktu tertangkapnya. Sebagian meringkuk dalam penjara atau kamp-kamp tawanan.

Aku tertangkap oleh patroli Belanda, ditahan di markas. Di situ pemeriksaan-pemeriksaan sangat kejam, hingga banyak tahanan-tahanan mengakui saja tuduhan-tuduhan yang dijatuhkan karena tidak tahan pukulan. Jika ada yang diperiksa sampai matahari terbenam belum juga dikembalikan ke dalam sel, malamnya menyusul beberapa tembakan yang terdengar dari tempat tahanan dan mereka tidak pernah kelihatan lagi. Meskipun kami tidak pernah melihat sendiri, kami yakin bahwa mereka yang tak dikemnbalikan itu ditembak mati.

Ditahan di markas paling berat. Hampir tiap hari diperiksa dengan tuduhan-tuduhan membunuh, merampok, mengikuti organisasi-organisasi mata-mata republik dan sebagainya, disertai pukulan-pukulan. Kalau sedang tidak diperiksa meringkuk dalam sel, cemas dan takut karena tidak bisa mengirakan apa yang bakal terjadi. Orang-orang Indonesia yang diperalat Belanda untuk memeriksa umumnya lebih kejam dari serdadu-serdadu Belanda. Semua tahanan, tidak memandang kedudukan, tentu mengalami bengkak-bengkak dan berdarah jika ditahan di markas.

Kepindahan berpuluh-puluh tahanan pada suatu hari, termasuk aku, merupakan pembebasan dari siksaan lahir dan batin. Kami bisa tersenyum lega waktu truk-truk yang membawa kami mulai bergerak meninggalkan markas. Hanya mereka yang tahan pukulan dan nekat mengelakkan tuduhan yang dipindahkan. Atau mereka yang pandai memuaskan si pemeriksa dengan pura-pura bodoh dan mengakui salah satu kesalahan yang tidak begitu berat. Mataku masih bengkak hari itu.

Kamp baru yang kami tempati letaknya di tepi kota di sebelah belakang penjara umum. Kamp itu baru selesai dibuat. Dan sejak ditempatkan di situ, kami dinamakan tawanan. Tidak ada pemeriksaan lagi. Hanya mereka yang tersangkut dalam perkara-perkara baru, dibawa ke markas lagi.

Kami semuanya dipekerjakan. Setiap pagi diangkut dengan truk-truk ke tempat pekerjaan. Paling senang bekerja di dapur batalyon. Roti dan kopi susu selalu berlebihan, pulangnya boleh membawa kelebihan-kelebihan atau sisa-sisa makanan dan serdadu-serdadu di batalyon tidak kejam, tak suka mengejek seperti serdadu di markas. Kebanyakan malah ramah dan sering memberi rokok.

Tapi hanya seminggu aku berhal demikian. Kemudian aku mendapat keistimewaan dari komandan kamp, seorang sersan totok beramput pirang. Mulainya begini. Ia sangat gemar bermain catur. Tawanan seorang demi seorang yang bisa main catur diajaknya bermain. Ia selalu menang. Bukan main herannya waktu ia hanya berhasl menang sekali setelah melawanku beberapa kali. Ia gembira mendapat lawan yang kuat. Aku tidak lagi dipekerjakannya. Aku jadi kawannya untuk mengisi waktu kosong. Setiap hari bermain catur atau duduk-duduk mengobrol menemainya. Ia tampak kesepian dan terasing sebagai komandan kamp. Seorang kopral pembantu tetapnya jarang kelihatan, sedang serdadu-serdadu yang mengadakan penjagaan diganti setiap 24 jam.

Respon Pembaca

komentar

1 2 3